Sabtu, 21 Mei 2011

Makna Muhammadiyah dalam Gerakan Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

" Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (QS. Al-Ma’un: 1-7)

Ayat di atas merupakan basis ideologi perjuangan Muhammadiyah yang memberikan landasan keberpihakan kepada kaum lemah (dhu’afa’) dan kaum teraniaya (mustadh’afin). Semangat Al-Ma’un merupakan dasar pijakan dalam pengembangan awal gerakan “PRO-Penolong Kesengsaraan Oemoem” dengan tokoh Kyai Sudjak di awal pendirian Muhammadiyah tahun 1912. Penerjemahan tersebut disesuaikan dengan munculnya gagasan baru tentang pembentukan masyarakat sipil atau masyarakat madani atau masyarakat yang beradab. Masyarakat madani yang dimaksud dalam hal ini adalah masyarakat yang terbuka dan bermartabat.

Sayyid Quthb (dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an Vol. 24) menjelaskan bahwa surat pendek ini mampu memecahkan hakikat besar yang mendominasi pengertian iman dan kufur secara total. Boleh jadi definisi iman dan kufur di sini sangat berbeda bila dibandingkan definisi tradisional. Karena kufur (mendustakan agama) di sini diartikan sebagai menghardik anak yatim dan atau menyakitinya (Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, ayat 2-3). Logika kufur muncul karena seharusnya saat iman seorang sudah mantap di hati niscaya anak-anak yatim dan orang miskin tentu tidak akan diterlantarkan.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat di tarik dari penjelasan latar belakang adalah bagaimana sebenarnya makna Muhammadiah dalam gerakan sosial?

Tujuan Pembahasan
            Tujuan dari pembahasan ini adalah melakukan diskusi yang di harapkan dapat menjelaskan dan memahami bagaimana makna Muhammadiya dalam bidang sosial.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Berdirinya organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah tidak terlepas dari sumbangsih empat kuartet bersaudara. Mereka amat dihormati oleh warga Muhammadiyah, dari sejak dulu hingga kini. Empat bersaudara tersebut antara lain H Muhammad Sudjak, KH Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusuma, dan KH Zaini.
Mereka merupakan generasi pertama gerakan Muhammadiyah yang langsung di bawah bimbingan KH Ahmad Dahlan, Bapak Muhammadiyah. Dan dari empat orang bersaudara itu, yang paling tua adalah H Muh Sudjak. H Muhammad Sudjak terlahir di Kampung Kauman, Yogyakarta pada tahun 1885/1303 H. Dia berasal dari keluarga abdi dalem santri keraton Yogyakarta. Ayahnya adalah H. Hasyim yang menjabat sebagai seorang abdi dalem keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Dari sekian banyak kader muda KH. Ahmad Dahlan yang mempunyai pola pikir dan perjuangan pragmatis dan bergerak di bidang sosial adalah Sudjak. Sikap seperti itu merupakan hasil pendidikan yang diberikan KH Ahmad Dahlan di mana dia senantiasa menekankan pentingnya aksi (praktek amaliah) dari pada hanya sekedar beretorika. Dan Sudjak dipandang sebagai tokoh yang pantas memimpin Bagian PKU Muhammadiyah.
Sebagai pemimpin Bagian PKU Muhammadiyah, Sudjak yakin lembaga tersebut akan mampu membuktikan bahwa bangsa Indonesia, khususnya Muhammadiyah dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin, rumah anak yatim dan sebagai aksi sosialnya. Rencananya untuk mendirikan beberapa amal sosial itu kemudian dipresentasikan saat dilantik menjadi ketua Bagian PKU Muhammadiyah. Rencana Sudjak terdengar sangat berlebihan untuk ukuran saat itu sehingga di depan khalayak dia malah ditertawakan. Meski demikian dia tetap yakin akan tekadnya.
Dia berpegang pada realitas bahwa telah banyak orang non-Muslim (Kolonial Belanda) yang dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin dan rumah yatim hanya karena dorongan rasa kemanusiaan tanpa didasari rasa tanggungjawab kepada Allah SWT. Jika umat non-Muslim saja mampu melakukan aksi-aksi sosial, mengapa umat Islam yang mempunyai landasan agama seperti yang tertera dalam QS Al Maun, tidak dapat melakukannya.
Lebih jauh dia berprinsip bahwa jika Allah telah menetapkan ketentuannya di dalam Alquran, pasti ketentuan itu dapat dilakukan umat-Nya, karena mustahil Allah membuat ketentuan yang tidak dapat dilakukan kaum-Nya. Pada perkembangannya kemudian, ternyata apa yang digagas Sudjak menjadi kenyataan. Perlahan tapi pasti Muhammadiyah mampu mendirikan rumah sakit di Yogyakarta serta mendirikan rumah miskin dan panti anak yatim di mana-mana sebagai amal usaha-amal usaha andalan di bidang sosial.
Itulah sumbangan terbesar yang diberikan Sudjak dalam merintis dan mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di bagian PKU. Sudjak pun dipandang sebagai inspirator dan perintis utama aksi sosial dalam gerakan Muhammadiyah setelah KH Ahmad Dahlan sendiri. Di lingkungan Muhammadiyah, meski belum pernah menjabat sebagai ketua Muhammadiyah dan jabatan tertingginya hanya sampai pada jabatan wakil ketua, tapi nama Sudjak cukup populer. Hal ini karena dia dipandang sebagai salah seorang murid dan kader langsung dari KH. Ahmad Dahlan.
Bahkan pada sekitar tahun 1937 ketika terjadi gejolak di kalangan muda Muhammadiyah yang menghendaki adanya regenerasi dia adalah salah satu di antara trio angkatan tua bersama-sama dengan M. Mukhtar dan H. Hisyam yang sangat populer. Dalam kongres Muhammadiyah yang ke-26 di Yogyakarta pada tahun 1937, Sudjak tetap diberi kepercayaan untuk memimpin Bagian (Majlis )PKU yang memang bidangnya. Setelah itu, Sudjak tidak lagi duduk di dalam kepengurusan besar Muhammadiyah secara fungsional. Namun, hingga masa akhir hayatnya pada tahun 1962, dia dipercaya menjadi anggota penasehat PP Muhammadiyah.


BABIII
PEMBAHASAN

Ketika pertama kali lahir tahun 1912, Muhammadiyah adalah sebuah gerakan sosial keagamaan yang tidak hanya terilhami oleh kenyataan tidak murninya praktik ajaran Islam di tanah air. Di luar persoalan ini, sebenarnya Muhammadiyah juga lahir karena terdapat kondisi sosial yang sangat timpang. Sekadar menyebut contoh, praktik dualisme pendidikan, yakni pendidikan Belanda yang sekular untuk kaum priyayi dan anak-anak Belanda, di satu sisi, dan pendidikan pesantren yang sangat tradisional untuk penduduk pribumi dan rakyat jelata, di sisi lain, merupakan contoh ketimpangan sosial yang terjadi itu.
Tafsir sosial yang dilakukan oleh Kiai Dahlan atas semua persoalan pada masanya sangat lugas. Penerjemahan teks-teks Qur’ani ke dalam praksis sosial dilakukan oleh Kiai Dahlan dengan sangat tangkas. Barangkali karena Kiai Dahlan tidak banyak berteori, sehingga sementara pengamat menggolongkannya sebagai man of action dan bukan man of thought. Sampai batas-batas tertentu, ungkapan ini tentu benar. Tetapi secara lebih mendasar apa yang dilakukan oleh Kiai Dahlan bukan berarti tanpa refleksi kritis dan mendalam terhadap kondisi yang dihadapi. Refleksi kritis terhadap realitas sosial yang terjadi dan kemudian mencarikan solusi yang tepat untuk mengentaskannya inilah yang belakangan menjadi sebuah semangat baru dalam ilmu sosial. Sehingga teori sosial kritis yang belakangan ini banyak diintrodusir, dianggap perlu dipertimbangkan sebagai sebuah pendekatan baru dalam metode tafsir sosial Muhammadiyah.
Muhammadiyah memihak pada domain sosial yang sangat luas. Penerjemahan teks-teks Qur’an menjadi praksis sosial yang memihak merupakan sebuah ciri penting Muhammadiyah masa awal. tidak seorangpun yang bisa membantah kenyataan bahwa Muhammadiyah lahir dengan pemihakan yang luar biasa terhadap realitas sosial yang terwujud dalam kemiskinan, ketertindasan, kurang atau rendahnya pendidikan. Selama bertahun-tahun lamanya semangat ini menjadi spirit utama gerakan Muhammadiyah, sehingga kehadiran Muhammadiyah sebagai sebuah mesin yang mampu melakukan transformasi sosial mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari berbagai kalangan. Contoh transformasi itu, misalnya, terwujud dalam partisipasi Muhammadiyah menciptakan kelas-kelas sosial baru yang mungkin tidak akan pernah terwujud jika Muhammadiyah tidak hadir dengan nilai-nilai barunya. Kuntowijoyo bahkan meyakini bahwa sulit dibayangkan akan lahir kelas-kelas sosial baru dalam masyarakat Indonesia, jika Muhammadiyah tidak hadir dengan menawarkan modernisasi sistem pendidikan di Indonesia yang dualistik di atas. Karena sistem pendidikan sebagaimana yang disebut di atas, justru melanggengkan ketimpangan sosial.

Kritik dan Kelemahan-kelemahan terhadap Gerakan Sosial Muhammadiyah
Muhammadiyah sering menuai kritik sebagai gerakan sosial yang mulai terjangkit penyakit elitisme. Perkembangan Muhammadiyah yang kian pesat dari hari ke hari dalam banyak hal menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi, termasuk orientasi gerakan sosialnya. Jika pada mulanya, amal usaha Muhammadiyah, khususnya dalam bidang sosial lebih banyak “berbicara” pada bidang-bidang sosial yang berorientasi voulentaire, kini hampir bisa dipastikan bahwa seluruh amal usaha Muhammadiyah berorientasi pada persoalan ekonomi dan sampai batas-batas tertentu cenderung profit oriented. Hal itu tidak sepenuhnya salah, karena sebagai sebuah organisasi, Muhammadiyah harus profesional, dan profesionalitas itu antara lain harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk seperti itu, sedangkan pola-pola volunteerism tentu memiliki potensi yang kontra produktif dengan kenyataan tersebut. Tetapi hal itu sekaligus menimbulkan dilema: pada satu sisi Muhammadiyah memang harus terus mengembangkan profesionalitasnya, tetapi yang juga harus diingat adalah, jangan sampai profesionalitas yang hendak dicapai itu melupakan fungsi-fungsi sosial Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan.
Jika dikaitkan dengan teori gerakan, maka Muhammadiyah cenderung berada pada posisi peripheral,tidak ‘’Kiri’’ tidak juga ‘’Kanan’’. Maka tidak ada salahnya jika Muhammadiyah mengambil peran gerakan Kiri, bukan dalam bentuk, tetapi dalam fungsi, untuk melakukan keberpihakan ulang terhadap kaum proletar seperti pada masa-masa awal berdirinya organisasi ini. Secara umum, Kiri diartikan sebagai kelompok yang cenderung radikal, sosialis, ‘’anarkis’’, reformis, progresif atau liberal. Dengan kata lain, Kiri selalu menginginkan kemajuan (progress) yang memberikan inspirasi bagi keunggulan manusia atas ‘’takdir sosial’’ yang dialaminya.
Kelemahan Muhammadiyah dalam bidang gerakan sosial lainnya adalah pendasaran pembinaan sosial pada jenis kelamin dan usia yang pada gilirannya menjadikan Muhammadiyah seolah-olah tidak peduli dengan interest group, seperti petani, buruh, nelayan kalangan proletar lainnya. Akibatnya, Muhammadiyah seolah-olah membiarkan warganya yang menjadi buruh berbondong-bondong ke organisasi lain yang dirasa lebih aspiratif dengan kepentingannya, seperti APSI, atau petani yang ke HKTI dan sebagainya.
Maka proletarisasi Muhammadiyah, nampaknya merupakan suatu persoalan yang sangat urgen untuk dilakukan dalam diri Muhammadiyah. Mau tidak mau harus diakui, bahwa apapun yang dilakukan oleh Muhammadiyah kurang menyentuh massa di kalangan grass root. Jika hal ini terus berlanjut, maka sedikit demi sedikit Muhammadiyah akan mulai kehilangan basis massa pendukungnya, khususnya dari kalangan kelas menengah ke bawah. Kecuali jika Muhammadiyah memang sudah puas dengan basis massa kalangan menengah ke atas yang saat ini dimilikinya.
Patut dicatat di sini, bahwa proletarisasi Muhammadiyah dan adopsi peran gerakan Kiri yang dimaksudkan bukan untuk membenturkan kelas menengah ke atas (kaum borjuis) dengan kelas menengah ke bawah (kaum proletar), seperti halnya gerakan Kiri ala Marxis, tetapi lebih sebagai upaya untuk melakukan rekonstruksi paradigma gerakan sosial Muhammadiyah yang oleh Kuntowijoyo disebut belum jelas. Dan lebih dari itu, proletarisasi Muhammadiyah dan adopsi peran gerakan Kiri dimaksudkan untuk –seperti kata Kazuo Shimogaki— melawan ‘’takdir sosial’’ yang dialami oleh sebagian besar umat Islam.

Teori Sosial Kritis sebagai Metode Alternatif
the new social movement. Proses berteologi yang selama ini lebih menganggap teologi sebagai disiplin ilmu mestinya mulai dirubah menjadi teologi sebagai sebuah gerakan, sehingga teologi merupakan kerja pedagogis kemanusiaan yang bisa berwatak pembebasan. Bahwa perubahan bukan hanya harus dilakukan oleh satu komunitas tertentu saja, melainkan juga oleh lapisan sosial lainnya, sehingga perubahan itu terjadi secara kolektif.
Globalisasi, dalam konteks ini penting dibicarakan supaya kita mengenal the New Social Movement lebih baik lagi. Ada empat hal dalam globalisasi yang memaksa kita mengkaji ulang semua, terutama berkaitan dengan apakah kesadaran teologis kita hubungannya dengan bentuk praktis the New Social Movement. Empat hal itu dapat dapat merubah tingkat kesadaran intelektual orang yang menjadi arus luar biasa sekarang ini, yaitu: capital on the move, media on the move; people on the move, dan gagasan-gagasan revolusioner.
Ketika globalisasi menjadi dominan, mungkin tidak ada kekuatan lokal yang survive. Globalisasi selalu mengandaikan adanya main village, padahal main village sudah tidak ada, bahkan ethnicity mulai pudar.Nasionalisme kalah dengan kapitalisme, kapital tidak mengenal nasionalisme dan bahkan tidak mengenal agama, begitu pula dengan media. Meskipun pemilik media adalah orang Islam, mialnya, bukan berarti akan terjadi Islamisasi media, walaupun persoalannya orang Islam harus punya media. Apa arti Muhammadiyah di tengah problematika yang semakin pelik ini, ketika Nasionalisme-nasionalisme sudah mulai luntur? Maka jawabannya ialah bagaimana menjadi subjek yang kritis dan kreatif serta komitmen intelektual kita menjadi imajinatif dan lebih kreatif. Tanpa imajinasi itu, tidak ada peran yang bisa kita mainkan.


BAB VI
KESIMPULAN

Berjalan dari QS Al-Ma’un tersebut Muhammadiyah sebagai organisasi islam menekankan untuk bergerak di bidang sosial yang mana gerakan sosial Muhammadiyah ini di cetuskan pertama kali oleh KH M Sudjak, dia adalah seorang murid langsung dari KH Ahmad Dahlan. Pola pikir KH M Sudjak yang bergerak di bidang sosial ini adalah hasil pendidikan yang diberikan KH Ahmad Dahlan di mana dia senantiasa menekankan pentingnya aksi (praktek amaliah) dari pada hanya sekedar berteorika.
Tafsir sosial yang dilakukan oleh Kiai Dahlan atas semua persoalan pada masanya sangat lugas. Penerjemahan teks-teks Qur’ani ke dalam praksis sosial dilakukan oleh Kiai Dahlan dengan sangat tangkas. Barangkali karena Kiai Dahlan tidak banyak berteori, sehingga sementara pengamat menggolongkannya sebagai man of action dan bukan man of thought. Sampai batas-batas tertentu, ungkapan ini tentu benar. Tetapi secara lebih mendasar apa yang dilakukan oleh Kiai Dahlan bukan berarti tanpa refleksi kritis dan mendalam terhadap kondisi yang dihadapi. Refleksi kritis terhadap realitas sosial yang terjadi dan kemudian mencarikan solusi yang tepat untuk mengentaskannya inilah yang belakangan menjadi sebuah semangat baru dalam ilmu sosial. Sehingga teori sosial kritis yang belakangan ini banyak diintrodusir, dianggap perlu dipertimbangkan sebagai sebuah pendekatan baru dalam metode tafsir sosial Muhammadiyah.
Akan tetapi gerakan sosial Muhammadiyah ini masih benyak memiliki kekurangan-kekurangan yang harus di benahi dan di kritisi agar gerakan sosial Muhammadiyah ini berjalan dengan lebih baik sehingga organisasi Muhammadiyah menjadi lebih besar dan lebih sempurna dalam mengamalkan ajaran-ajaran yang telah di sampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dan sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Allah SWT  didalam Al-Qur’an-Nya.
 

DAFTAR PUSTAKA

  • Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1991, h. 338.

  • Kazuo Shimugaki, Kiri Islam, Antara Modernisme dan Postmodernisme: Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta: LKiS, 1993, h. 6.

  • Kuntowijoyo, op. cit., h. 266.

  • http://lembagabencana.blogspot.com/2011/04/workshop.html

  • http://zulfiifani.wordpress.com/2010/02/12/seabad-muhammadiyah-dan-implementasi-al-ma%E2%80%99un/

  • http://sakha140887.multiply.com/journal/item/6


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar